Sebuah perselingkuhan berakhir tragis di Desa Laimeta, menimbulkan kematian dan mengguncang warga setempat secara mendalam.
Kisah tragis menyelimuti Desa Laimeta, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, saat DKH (43) membunuh istrinya PL (29) setelah memaafkan perselingkuhan. Peristiwa mengguncang warga dan menyoroti emosi manusia, dari cemburu hingga kemarahan. Insiden terjadi 22 Desember 2025, tak lama setelah masalah diselesaikan adat.
Berikut ini rangkuman berbagai informasi menarik kriminal lainnya yang bisa menambah wawasan Anda hanya di Info Kriminal Hari Ini.
Pengakuan Perselingkuhan Dan Penyelesaian Adat
Awalnya, DKH menaruh curiga terhadap perubahan sikap istrinya, PL, terutama karena sering pulang terlambat saat menimba air. Kecurigaan ini memuncak ketika PL akhirnya mengakui telah berselingkuh dengan Edy (30), kerabat dekat DKH sendiri. Pengakuan PL mengungkapkan bahwa perselingkuhan tersebut telah berlangsung sejak Agustus 2025 dan melibatkan delapan kali hubungan intim.
Meskipun hatinya hancur, DKH mencoba berbesar hati dan memaafkan perbuatan istrinya. Ia bahkan mengambil langkah proaktif dengan menemui keluarga Edy. Tujuan pertemuan ini adalah untuk menyelesaikan masalah perselingkuhan tersebut secara adat, menunjukkan upaya DKH untuk mencari kedamaian.
Penyelesaian adat pun dilaksanakan, menghasilkan kesepakatan damai. Sebagai bentuk denda atau permintaan maaf, keluarga Edy menyerahkan uang tunai sebesar Rp 100 ribu dan selembar kain tenun. Dengan adanya ritual adat ini, permasalahan dianggap selesai, dan pasangan suami istri tersebut diharapkan bisa kembali rukun.
Perdebatan di Kebun Dan Pemicu Emosi
Setelah insiden perselingkuhan dan penyelesaian adat, DKH dan PL pergi ke kebun untuk menanam jagung pada Senin, 22 Desember 2025. Lokasi kebun yang berjarak sekitar 700 meter dari rumah mereka menjadi saksi bisu tragedi berikutnya. DKH berusaha menasihati istrinya agar fokus membangun kembali rumah tangga mereka setelah semua yang terjadi.
Namun, nasihat yang seharusnya menenangkan itu justru memicu amarah PL. Ia merasa masalah telah tuntas dan enggan membahasnya lagi. Perdebatan sengit pun tak terhindarkan, memicu ketegangan di antara keduanya hingga berujung pada pertengkaran yang mematikan.
Dalam puncak emosi, PL naik pitam dan mengayunkan pacul yang dipegangnya ke arah DKH. Beruntung, DKH berhasil menghindari serangan tersebut. Kejadian ini menjadi titik balik, di mana emosi yang tadinya tertahan kini meledak dan tidak terkendali.
Baca Juga: Polisi Periksa 24 Saksi Terkait Pembunuhan Pensiunan Guru di Sumbar
Tindak Kekerasan Yang Berujung Maut
Serangan pacul dari PL membakar emosi DKH yang sudah terpendam. DKH, yang saat itu menggunakan kayu gamal untuk menanam jagung, melayangkan pukulan bertubi-tubi kepada istrinya. PL langsung rubuh tidak berdaya setelah menerima pukulan-pukulan tersebut.
Melihat istrinya terkapar, DKH segera merangkul dan meminta maaf. Ia bahkan sempat memberikan minum kepada PL yang mengeluh kesakitan. Dalam upaya untuk meredakan situasi dan mengantisipasi cuaca mendung, DKH meninggalkan PL sejenak untuk mengambil terpal dan selimut dari rumah.
Namun, ketika DKH kembali, ia menemukan PL sudah tidak bernapas. Dalam kepanikan, DKH memindahkan tubuh korban ke terpal, mengganti pakaiannya, dan menyelimutinya dengan kain hangat. Setelah itu, DKH menyerahkan diri ke polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Fakta Mengejutkan Dan Latar Belakang Pelaku
Pemeriksaan polisi di lokasi kejadian mengungkapkan adanya luka memar di kepala belakang, dahi kiri, kelopak mata, dan pipi PL, disertai bercak darah. Jenazah korban kemudian divisum di RSUD Umbu Rara Meha Waingapu untuk proses lebih lanjut.
Terungkap fakta bahwa PL adalah istri kedua DKH dan berstatus janda. DKH sendiri memiliki riwayat kekerasan dalam rumah tangga. Ia pernah dipenjara selama 10 bulan pada tahun 2017 karena menganiaya istri pertamanya, menunjukkan pola kekerasan yang pernah terjadi sebelumnya.
Kasus ini menjadi pengingat pahit akan bahaya kekerasan dalam rumah tangga dan pentingnya pengelolaan emosi. Tragedi ini juga menyoroti bagaimana penyelesaian masalah secara adat, meskipun bertujuan baik, tidak selalu dapat mencegah ledakan emosi dan tindakan kekerasan.
Ikuti perkembangan Info Kriminal terupdate setiap harinya agar selalu mendapat kabar terbaru dan akurat seputar dunia kriminal hanya di Info Kriminal Hari Ini.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari liputan6.com