Terungkap siswa pelaku ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta, 4 dari 7 bom meledak insiden yang mengguncang lingkungan sekolah di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Pada Jumat siang, 7 November 2025, tepatnya ketika salat Jumat di sekolah berlangsung, terdengar ledakan keras yang membangunkan keheningan musholla sekolah.
Berikut ini rangkuman berbagai informasi kriminal menarik lainnya dan bermanfaat yang bisa menambah wawasan Anda ada di Info Kriminal Hari Ini.
Kronologi Kejadian
Kejadian bermula saat salat Jumat berlangsung di musholla sekolah. Ketika khotbah belum selesai tiba-tiba terdengar suara ledakan. Sebuah bom rakitan meledak di dalam musholla, kemudian disusul ledakan lainnya di area kantin atau sekitar lingkungan sekolah.
Setelah ledakan, petugas dari Polda Metro Jaya dan tim penjinak bom segera melakukan sterilisasi lokasi. Dalam pemeriksaan, ditemukan total tujuh bom rakitan namun hanya empat meledak. Tiga lainnya berhasil dijinakkan oleh tim Jibom Brimob.
Berlangsungnya dua hingga tiga titik ledakan sekaligus membuat kepanikan di antara ratusan siswa, guru, serta staf sekolah.
Motif yang Sedang Diselidiki
Pelaku yang sudah diidentifikasi sebagai siswa aktif SMA Negeri 72 Jakarta berusia sekitar 17 tahun. Ia turut menjadi korban luka dalam ledakan dan kini menjalani perawatan intensif di bawah pengawasan pihak kepolisian.
Dalam pemeriksaan awal ditemukan fakta bahwa dia gemar mengakses konten kekerasan dan senjata mainan. Serta diduga memiliki catatan perundungan (bullying) di sekolah.
Polisi menyatakan bahwa hingga kini motif lengkapnya belum dapat dipastikan secara resmi; dugaan awal mengarah pada rasa dendam pribadi atau tekanan psikologis bukan jaringan teroris besar.
Baca Juga:
Dampak Pada Korban

Korban ledakan terbanyak adalah siswa dan guru di SMA Negeri 72 yang sedang melakukan salat Jumat saat kejadian. Beberapa mengalami luka bakar, kehilangan pendengaran akibat tekanan ledakan, dan cedera dari pecahan serpihan.
Sekolah serta pihak berwenang segera melakukan evakuasi, sterilisasi area, dan perawatan korban di rumah sakit.
Selain luka fisik, dampak psikologis menjadi perhatian serius trauma, rasa takut kembali ke sekolah, dan kecemasan atas keselamatan menjadi isu yang harus ditangani. Pemerintah daerah dan polisi telah menyampaikan program pendampingan korban serta layanan trauma healing bagi siswa dan guru.
Dari sisi sekolah, manajemen sekolah harus mengevaluasi sistem keamanan, prosedur evakuasi darurat. Serta lingkungan sosial sekolah terutama bagaimana mendeteksi siswa yang merasa terisolasi atau rentan terhadap tindakan ekstrem.
Insiden ini menjadi alarm bahwa lingkungan pendidikan perlu memperkuat sistem pengawasan, bimbingan konseling. Dan keterbukaan komunikasi antar siswa maupun keluarga.