Seorang pelajar SMP berusia 14 tahun ditemukan tewas di bekas Kampung Gajah, diduga dibunuh teman SMK karena sakit hati.
Kasus pembunuhan sadis mengguncang Bandung Barat setelah jasad pelajar SMP 14 tahun, ZAAQ, ditemukan di bekas objek wisata Kampung Gajah. Polisi menangkap dua terduga pelaku, YA (16) dan AP (17), salah satunya pelajar SMK asal Garut. Motif diduga karena sakit hati akibat putus pertemanan, menyoroti rentannya hubungan remaja.
Berikut ini Info Kriminal Hari Ini Akan merangkum berbagai informasi kriminal menarik lainnya dan bermanfaat yang bisa menambah wawasan Anda.
Kronologi Penemuan Jasad Dan Penangkapan Pelaku
Jasad ZAAQ (14), seorang pelajar SMP Negeri 26 Bandung, ditemukan di lokasi eks Kampung Gajah, Bandung Barat. Penemuan tragis ini terjadi pada Jumat (13/2) malam, setelah korban dilaporkan menghilang beberapa hari sebelumnya. Penemuan jasad ini memicu penyelidikan intensif dari pihak kepolisian.
Unit Resmob Satreskrim Polres Cimahi segera bergerak dan berhasil mengamankan dua terduga pelaku, YA (16) dan AP (17). Keduanya ditangkap di kediamannya di Desa Banyuresmi, Kabupaten Garut. Sebelum ditangkap, kedua tersangka sempat melarikan diri ke Tasikmalaya dalam upaya menghindari kejaran polisi.
Kepala Polres Cimahi, AKBP Niko N Adi Putra, mengonfirmasi penangkapan kedua remaja tersebut. YA diidentifikasi sebagai pelaku utama dalam kasus pembunuhan ini. Penangkapan cepat ini menjadi bukti kesigapan kepolisian dalam menindaklanjuti laporan masyarakat dan mengungkap kasus kejahatan.
Identitas Pelaku Dan Status Pendidikan
YA (16) merupakan pelajar SMK di salah satu sekolah di Garut. Meskipun masih berstatus di bawah umur, YA diyakini sebagai pelaku utama dalam kasus pembunuhan ZAAQ. Statusnya sebagai pelajar menimbulkan keprihatinan terkait perilaku kekerasan di kalangan remaja.
Sementara itu, AP (17), terduga pelaku lainnya, diketahui sudah putus sekolah. Saat penangkapan, AP bekerja sebagai tukang dekor pernikahan. Kedua tersangka yang masih di bawah umur ini menjadi fokus penyelidikan, mengingat adanya perbedaan latar belakang pendidikan dan pekerjaan mereka.
AKBP Niko N Adi Putra menyoroti status kedua tersangka yang masih di bawah umur. Kasus ini menjadi alarm bagi semua pihak untuk lebih memperhatikan pergaulan dan kondisi mental remaja. Pendidikan karakter dan pengawasan orang tua menjadi sangat penting untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Baca Juga: Teror Jalan Sepi Bogor, Mantan Kades Ditusuk Usai Salat Jumatan
Motif Pembunuhan, Sakit Hati Akibat Putus Pertemanan
Penyelidikan polisi mengarah pada motif sakit hati sebagai pemicu utama pembunuhan ZAAQ. Tersangka YA mengaku bahwa korban telah memutuskan pertemanan mereka, yang kemudian menimbulkan dendam dan niat jahat. Konflik pertemanan di kalangan remaja seringkali menjadi masalah serius.
AKBP Niko menjelaskan bahwa korban dihabisi pada Senin (9/2/2026) sore. Pelaku sengaja datang ke Bandung untuk menemui korban. Jeda beberapa hari antara waktu pembunuhan dan penemuan jasad menunjukkan upaya pelaku untuk menghilangkan jejak, namun akhirnya terungkap berkat saksi yang sedang live media sosial.
Pengakuan tersangka tentang sakit hati karena putus pertemanan menyoroti urgensi edukasi tentang pengelolaan emosi dan resolusi konflik di kalangan remaja. Kasus ini menjadi pengingat bahwa masalah sepele bagi orang dewasa bisa menjadi pemicu tindakan ekstrem di kalangan anak muda.
Implikasi Dan Dampak Sosial Kasus
Kasus pembunuhan ini mengejutkan masyarakat, terutama di kalangan orang tua dan pendidik. Tragedi ini menyoroti pentingnya pengawasan terhadap pergaulan remaja dan penggunaan media sosial. Insiden ini juga menjadi pelajaran berharga tentang bahaya konflik yang tidak terselesaikan dengan baik.
Pihak kepolisian akan terus mendalami kasus ini untuk mengungkap semua fakta di balik pembunuhan ZAAQ. Proses hukum terhadap YA dan AP akan dilaksanakan sesuai dengan undang-undang yang berlaku, mengingat status mereka sebagai anak di bawah umur. Keadilan harus ditegakkan untuk korban dan keluarganya.
Masyarakat diharapkan dapat mengambil hikmah dari kejadian tragis ini. Komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak, serta peran aktif sekolah dalam membentuk karakter siswa, menjadi kunci untuk mencegah kekerasan dan konflik di kalangan remaja. Perlindungan terhadap anak-anak adalah tanggung jawab bersama.
Ikuti perkembangan Info Kriminal terupdate setiap harinya agar selalu mendapat kabar terbaru dan akurat seputar dunia kriminal hanya di Info Kriminal Hari Ini.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari teropongmedia.id
- Gambar Kedua dari merdeka.com