Candaan soal nama orang tua berujung kekerasan di Grobogan, ketika seorang pelajar berusia 17 tahun mengalami pemukulan oleh om teman sekelasnya di sebuah kafe.
Peristiwa ini menyita perhatian karena berawal dari kebiasaan saling mengejek yang menurut keluarga korban sering terjadi di lingkungan sekolah.
Perselisihan tersebut kemudian berkembang hingga melibatkan orang dewasa dan berujung pada dugaan penganiayaan terhadap seorang pelajar. Simak ulasan lengkapnya dari Info Kriminal Hari Ini.
Berawal dari Kebiasaan Saling Ejek di Sekolah
RAH (17), seorang pelajar di Kabupaten Grobogan, mengalami penganiayaan di sebuah kafe wilayah Kecamatan Toroh. Ibu korban, Genduk Sri Lestari, menjelaskan bahwa persoalan bermula dari kebiasaan siswa saling meledek menggunakan nama orang tua.
“Di sekolah itu biasa pada panggil-panggilan ejek-ejekan pakai nama orang tua,” kata Genduk, dikutip dari detikJateng, Kamis (15/10/2026).
Menurut Genduk, kebiasaan yang awalnya berupa ejekan antarteman itu akhirnya memicu persoalan yang lebih serius. Situasi tersebut berujung pada kedatangan sejumlah orang ke tempat kerja anaknya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa candaan yang dianggap biasa oleh sebagian orang belum tentu terasa ringan bagi orang lain. Ketika seseorang membawa persoalan tersebut ke luar lingkungan sekolah, konflik kecil berpotensi berkembang menjadi tindakan kekerasan.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Sejumlah Orang Mendatangi Korban di Kafe
Saat kejadian berlangsung, RAH sedang bekerja di sebuah kafe di Kecamatan Toroh. Menurut keterangan ibunya, beberapa orang datang menemui korban pada malam hari.
Genduk menyebut rombongan tersebut berjumlah sekitar enam orang. Salah satu orang yang datang merupakan teman sekelas RAH.
“Anak saya kan kerja di kafe itu, terus didatengin sama temen yang satu kelas itu dia ke sana bawa orang, yang datang sekitar enam orang,” ujar Genduk.
Kedatangan rombongan tersebut kemudian berujung pada dugaan penganiayaan. Genduk menceritakan bahwa seseorang memukul anaknya satu kali saat masih berada di dalam kafe.
Perselisihan tidak berhenti di situ. Korban kemudian keluar dari kafe dan mengalami kekerasan lagi di luar bangunan.
Baca Juga: Bikin Geger! Mahasiswi di Medan Jadi Korban Begal Saat Berangkat Kuliah, 1 Pelaku Ditangkap
Rekaman CCTV Memperlihatkan Aksi Pemukulan
Rekaman kamera pengawas atau CCTV memperlihatkan situasi di sekitar lokasi kejadian. Dalam video tersebut, RAH tampak duduk di bangku kayu panjang dengan mengenakan pakaian dan celana hitam.
Sejumlah orang terlihat mengerumuni korban. Kamera merekam kejadian dari seberang jalan sehingga percakapan mereka tidak terdengar dengan jelas.
Tak lama kemudian, seorang pria berbaju merah muda terlihat melayangkan pukulan ke arah korban. Rekaman itu memperlihatkan beberapa pukulan mengarah ke bagian kepala dan tubuh RAH.
Korban tampak tidak memberikan perlawanan selama insiden tersebut berlangsung. Rekaman CCTV itu menjadi salah satu petunjuk visual untuk melihat rangkaian kejadian di lokasi.
Meski demikian, penyidik tetap perlu mencocokkan rekaman tersebut dengan keterangan saksi dan bukti lain untuk memastikan kronologi serta peran setiap orang yang berada di tempat kejadian.
Ibu Korban Ceritakan Kekerasan di Luar Kafe
Genduk menjelaskan bahwa anaknya mengalami pemukulan di dalam kafe sebelum kejadian berlanjut ke jalan raya. Ia menyebut seseorang mendorong RAH setelah korban keluar dari tempat kerjanya.
“Terus anak saya ditonjok satu kali. Terus anak saya keluar dari dalam kafe itu, di jalan dia didorong ke depan di jalan raya, nah yang saudaranya masnya tadi nonjokin anak saya, itu ada videonya,” ungkap Genduk.
Keterangan tersebut menggambarkan bagaimana perselisihan antarpelajar dapat menyeret orang lain ke dalam konflik. Apalagi, tindakan kekerasan melibatkan pihak yang lebih dewasa terhadap seorang remaja.
Bagi keluarga korban, kejadian ini tentu menimbulkan kekhawatiran karena anak mereka mengalami kekerasan ketika sedang menjalankan aktivitas sehari-hari.
Ejekan Bukan Alasan untuk Melakukan Kekerasan
Peristiwa di Grobogan ini menunjukkan pentingnya menyelesaikan perselisihan tanpa menggunakan kekerasan. Ejekan mengenai nama orang tua mungkin muncul sebagai candaan di antara teman sebaya, tetapi setiap orang perlu memahami batasan agar perkataan tidak memicu konflik.
Jika muncul persoalan di lingkungan sekolah, siswa dapat meminta bantuan guru atau pihak keluarga untuk mencari penyelesaian. Orang dewasa juga perlu menahan diri dan tidak mengambil tindakan sendiri yang justru memperburuk keadaan.
Kasus yang menimpa RAH menjadi perhatian karena konflik sederhana berujung pada dugaan pemukulan. Masyarakat kini perlu menunggu perkembangan penanganan perkara agar kronologi dan tanggung jawab setiap pihak menjadi jelas.