Kasus dugaan kekerasan oleh oknum polisi hebohkan publik setelah seorang perempuan M (30) melapor ke Bareskrim Polri atas penyekapan dan penyiksaann.
Laporan itu langsung menyita perhatian karena korban juga mengalami luka bakar serius di tubuhnya. Tim kuasa hukum dari Hotman 911 mendampingi korban saat membuat laporan resmi pada Kamis (2/7/2026). Kasus ini tercatat dengan nomor LP/B/295/VII/2026/SPKT/Bareskrim Polri dan langsung masuk tahap pemeriksaan awal oleh penyidik. Simak ulasan lengkapnya dari Info Kriminal Hari Ini.
Kondisi Korban Saat Tiba di Bareskrim Bikin Prihatin
Korban M datang ke Bareskrim dalam kondisi lemah dan harus menggunakan kursi roda. Tim pendamping bahkan menuntun korban saat memasuki ruang pemeriksaan. Luka bakar terlihat jelas di bagian tangan dan kaki, membuat suasana pemeriksaan berlangsung cukup emosional.
Penyidik mencatat sekitar 20 pertanyaan untuk menggali kronologi awal kejadian. Pemeriksaan berlangsung sejak siang hingga malam hari, sebelum korban kemudian diarahkan untuk menjalani visum et repertum di RS Polri Kramat Jati.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa korban tidak hanya mengalami tekanan psikologis, tetapi juga luka fisik yang cukup serius akibat rangkaian kejadian yang ia alami.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Kronologi Dugaan Kekerasan Sejak 2023
Kuasa hukum korban, Raden Reza, menjelaskan bahwa peristiwa ini bermula sejak 2023 di wilayah Jawa Tengah. Menurut penuturannya, korban mengenal terduga pelaku yang merupakan anggota kepolisian aktif.
Sejak awal hubungan itu terjalin, korban disebut mengalami berbagai bentuk kekerasan. Ia menyebut korban sempat dipaksa mengonsumsi narkotika jenis sabu dan berada dalam tekanan yang terus berlangsung selama bertahun-tahun.
Selama periode tersebut, korban juga mengalami penyekapan, ancaman, dan kekerasan fisik maupun psikis. Bahkan, korban diduga dipaksa terlibat dalam aktivitas ilegal yang semakin memperburuk kondisi mentalnya.
Baca Juga:Â Bukan Cuma Aniaya Pacar! Taufik Hidayat Kini Terseret Kasus Lebih Gila, Motor Ikut Dirampas?
Puncak Kekerasan dan Luka Bakar Serius
Reza mengungkapkan bahwa puncak kekerasan terjadi pada September 2025. Saat itu, korban mengalami luka bakar serius setelah diduga disiram cairan yang menyerupai air keras.
Korban sempat dibawa ke rumah sakit oleh terduga pelaku, namun kemudian ditinggalkan begitu saja tanpa tanggung jawab lebih lanjut. Kondisi ini membuat korban semakin sulit mendapatkan bantuan sejak awal kejadian.
Pihak pelaku juga diduga mencoba menutupi kejadian dengan memberikan keterangan berbeda kepada pihak lain, termasuk menyebut luka korban berasal dari ledakan tabung gas. Namun, hasil medis menunjukkan adanya indikasi luka bakar akibat zat kimia keras.
Intimidasi dan Tekanan yang Membuat Korban Diam
Selama bertahun-tahun, korban disebut tidak berani melapor karena terus mendapat tekanan dari terduga pelaku. Ancaman penyebaran rekaman CCTV bermuatan asusila membuat korban semakin takut untuk mencari pertolongan.
Tekanan psikologis tersebut membuat korban memilih diam dalam waktu lama. Situasi itu baru berubah setelah korban mendapat pendampingan dari tim hukum dan akhirnya berani melapor ke pihak berwajib.
Tim Hotman 911 kemudian mengevakuasi korban ke rumah aman untuk menghindari kemungkinan intimidasi lanjutan. Nomor telepon korban juga diganti agar komunikasi dengan pihak luar lebih aman dan terkontrol.
Polri Sudah Bergerak, Proses Hukum Berjalan
Pihak kuasa hukum menyebut terduga pelaku masih berstatus anggota aktif Polri yang bertugas di wilayah Pulau Jawa. Meski begitu, aparat kepolisian disebut sudah mulai mengambil langkah penanganan terhadap laporan tersebut.
Reza menyampaikan apresiasi terhadap respons awal Polri yang bergerak cepat dalam mengamankan pihak terkait. Ia berharap proses hukum berjalan transparan dan tidak berhenti di tengah jalan.
Saat ini, korban mengalami luka bakar hingga sekitar 47 persen di bagian tubuh sebelah kiri. Kondisi tersebut membuatnya masih membutuhkan perawatan intensif dan pendampingan psikologis untuk pemulihan jangka panjang.
Kasus ini kini terus berkembang dan menjadi perhatian publik. Banyak pihak menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan kebenaran seluruh dugaan yang dilaporkan serta langkah hukum yang akan ditempuh selanjutnya.